Setelah Kaus Polos, Kattoen Kini Andalkan Kaus Warna Ekslusif, Tangkap Peluang Baru

Setelah Kaus Polos, Kattoen Kini Andalkan Kaus Warna Ekslusif, Tangkap Peluang Baru

Bagi Anda yang mengikuti perkembangan fashion, istilah Clothing line bukanlah kata yang asing. Clothing line sendiri adalah bisnis pakaian oleh anak-anak muda dengan merk karya mereka sendiri yang dipasarkan melalui distro (distribution outlet) atau FO (factory outlet).

Di Indonesia, seiring industri fashion yang terus berkembang dan banyak brand luar negeri yang berinvestasi di bidang ini. Karenanya, bisnis clothing line semakin diminati, sehingga banyak anak muda yang menggeluti bidang ini sebagai bisnis.

Salah satunya adalah Kattoen yang bisa kita temukan di kota Malang. Berawal tanpa kesengajaan, muncul sebuah brand fashion bernama Kattoen di Malang.

Baca juga: Kawakibi Digital Branding jadi Mentor di AKI Kemenparekraf Balikpapan 2021

Sebelum memiliki nama besar seperti sekarang, ada perjuangan luar biasa yang dilalui sang owner. Kisah ini bisa menjadi inspirasi anak muda yang sedang membangun bisnis dan ingin memajukan produk lokal. Kattoen memulai bisnisnya dengan tujuan agar orang lain bisa membuat brand dengan lebih mudah.

Mereka memilih kaus polos sebagai produk utamanya. Awalnya mereka belum terpikir soal nama, namun kemudian tercetuslah nama Kattoen setelah hampir setahun berjalan. Nama tersebut kini sudah terdaftar di HAKI.

Setelah berjalan 2 tahun, Kattoen memberanikan diri membuat event berskala kecil di Malang Town Square. Brand kaus polos ini kemudian dikenal berkat sering mengikuti event. Namun sayangnya bisnis mereka jadi sangat bergantung pada event yang diadakan.

“Waktu awal 2015 sampai 2017 kita itu sudah kesulitan dari sisi penjualan. Kita baru bisa hidup kalau ikut event. Hidup kita di event. Kalau tidak ikut event, selesai (bangkrut),” ungkap Rizky, owner Kattoen kepada wartawan belum lama ini.

Di tengah kondisi yang semakin sulit, tepatnya di bulan November 2017, Kattoen mengalami kerugian hingga ratusan juta.

Baca juga: Bertahan di Masa Pandemi, Peluang Usaha Lewat Kemitraan jadi Solusi

Tidak ada modal lagi untuk melanjutkan bisnisnya, namun ada kewajiban yang tetap harus dipenuhi, Rizky berusaha mencari solusi. Ia kemudian mencari cara untuk bangkit dari bangkrut di internet.

Dari situ ia melihat berbagai macam penawaran, salah satunya adalah internet marketing. “Saya beranikan diri untuk belajar online. Saya cuma punya waktu belajar sebulan. Desember awal saya mulai belajar, 2018 langsung saya praktekkan,” tuturnya.

Belajar dari kegagalan sebelumnya, Kattoen menyadari bahwa sebagian besar konsumennya berasal dari luar Malang. Konsumen Kattoen tersebar di berbagai kota di Indonesia, mulai Aceh hingga Papua.  Meski tidak banyak, pelanggan mereka juga ada yang berasal dari luar negeri, seperti Malaysia dan Singapura.

Kattoen mencapai puncak tertingginya pada tahun 2019 tapi lagi-lagi harus berjuang akibat diterpa Covid-19 pada Agustus 2020. Penjualan yang awalnya lebih banyak melalui website, kemudian beralih ke marketplace.

Untungnya Kattoen masih dapat bertahan dengan mengandalkan bisnis kaus polos. Mereka mengamati setiap konsumen yang membeli produknya, kemudian menjadikannya sebagai peluang baru. “Kebanyakan orang yang membeli di kita itu karena untuk mengoleksi warna,” ungkapnya.

Dilansir dari @kattoen, brand local ini masih terus berinovasi dengan produk yang ditawarkannya. Brand lokal asal Malang ini akan membuat produk yang eksklusif, hanya mereka yang memiliki produk tersebut.

“Kita ingin menyediakan warna yang hanya kita yang jual. Kita mengeluarkan series 5 sampai 10 warna, tapi cuma kita yang jual,” bebernya. Banyaknya orang yang mengenal Kattoen lewat event, membuat banyak yang mengira brand ini berasal dari Ibukota.

“Nyatanya ini adalah brand lokal asal Malang yang sukses menjalankan bisnis clothing line,” katanya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *