Warta Jakarta – Pandemi banyak membawa dampak tak baik bagi sebagian orang. Namun, hadirnya pandemi Covid-19 di Indonesia justru menjadi titik balik Mira Nur Gandaniati untuk mendirikan brand barunya yang kini sukses di pasaran.

Perempuan yang akrab disapa Teh Mira itu nekat mendirikan brand lokal Hody.id dan menjajakan produk tas hasil desainnya sendiri. Meski bisnis tas kulit sapi miliknya limbung, ia tak kehabisan akal. Mira membuat brand produsen tas berbahan kulit sintetis sebagai langkah cepatnya untuk menyelamatkan bisnis dan para pekerjanya.

“Awal pandemi kemarin bisnis tas kulit sapi kami mengalami penurunan drastis. Kemudian coba banting setir untuk membuat produk tas kekinian menggunakan kulit sintetis dan Alhamdulillah bisa berkembang pesat,” ujar ibu empat anak tersebut, Jumat (4/2/2022).

Baca juga: Perjuangan Empat Sahabat dari Desa Dirikan Bisnis Digital Kasir Pintar

Di awal mendirikan brand barunya, perempuan kelahiran 1987 tersebut sempat ragu apakah produk buatannya akan diminati di pasaran. Mengingat daya beli masyarakat yang melemah akibat pandemi. Ia terus berinovasi membuat produk-produk tas yang sesuai target marketnya.

Pandemi membatasi ruang berkumpul dan acara-acara besar harus ditunda. Tas-tas yang biasanya dipakai di acara formal jadi kurang diminati. Mira melihat pasar saat ini membutuhkan produk tas yang lebih simpel dan santai. Tas berjenis slingbag kemudian banyak dicari.

“Acara-acara besar kan masih belum diperbolehkan, jadi tas yang untuk ke acara formal seperti ke kondangan jarang diminati. Akhirnya saya coba ke tas yang lebih casual untuk daily misal ke minimarket atau untuk jalan-jalan pun bisa. Ternyata peminatnya banyak,” kata Teh Mira.

Tahun pertama produksi, tas keluaran Hody.id bisa terjual puluhan ribu produk, hal itu diluar ekspektasi Mira.

Baca juga: Segudang Manfaat Gomilku, Produk Susu SR12 Herbal yang Bisa Kurangi Kolesterol hingga Atasi Masalah Lambung

Karena masih memiliki sedikit tim, akhirnya Mira kewalahan dan harus menambah karyawan baru. Mira yang kala itu hanya memiliki tiga karyawan untuk bisnis barunya ingin menambah jumlah pekerjanya. Ia melihat banyak sekali tenaga kerja yang kehilangan pekerjaannya akibat PHK sepihak saat pandemi. Ada pula pabrik yang harus tutup karena minimnya permintaan pasar.

“Akhirnya saya kepikiran untuk mengajak beberapa dari mereka bergabun, supaya bisa mendapatkan pekerjaan lagi. Saya juga menjalin kerja sama dengan pabrik garmen yang sempat tutup. Sampai akhirnya sekarang ada 7 pabrik yang hidup kembali,” papar Mira.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *