Rakernas Peradi Menjadi Ajang Mengusung Calon Ketua Umum

indonesiasatu, 03 Dec 2019, PDF
Share w.App T.Me
INDONESIASATU.CO.ID:

Jakarta - Rapat Kerja Nasional Perhimpunan Advokat Indonesia (Rakernas Peradi) Tahun 2019 yang berlangsung 27-29 November 2019 di Surabaya hanya mengasilkan Rekomendasi dari segelintir DPC PERADI yang mengusung nama Prof. Otto Hasibun sebagai Calon Ketua Umum DPN PERADI pada Munas mendatang Tahun 2020.

Dr. Anthon Raharusun,SH,,MH selaku ketua DPC Peradi Kota Jayapura sekaligus wakil ketua bidang Internal Audit DPN Peradi mengatakan ;"Forum Rakernas Peradi bukan dimaksudkan sebagai forum untuk merekomendasikan/mengusung nama Calon Ketua Umum, melainkan forum dimana DPC-DPC di seluruh Indonesia menyampaikan atau melaporkan mengenai pertama: Program Kerja yang sudah atau sedang dilaksanakan. Kedua,  mengenai Perkembangan Organisasi. Ketiga, mengenai Keanggotaan, dan Keempat, hal-hal lain yang dianggap penting untuk disampaikan atau dilaporkan oleh masing-masing DPC dalam Rakernas tersebut", ujar Anton melalui telephone seluler kepada redaksi, Selasa (3/12/2019).

Hal ini sebagaimana telah ditegaskan dalam ketentuan Pasal 41 ayat (1) Anggaran Dasar PERADI Perubahan Pertama Tahun 2015. Kalau pun Panitia Pelaksana Rakernas atau Pimpinan Sidang dalam Rakernas atau bahkan DPN PERADI menafsirkan mengenai ketentunan Pasal 41 ayat (1) Anggaran Dasar tersebut sepanjang mengenai frasa "hal-hal lain yang dianggap penting" untuk disampaikan atau dilaporkan oleh DPC-DPC, maka hal-hal lain tersebut harus dilihat dalam konteks Forum Rakernas dan bukan ditafsirkan lain dari maksud Anggaran Dasar tersebut, tutur Anthon.

Sebab, kalau saja forum Rakernas dipolitisir atau dipakai sebagai ajang mengusulkan nama Calon Ketua Umum seperti yang diberitakan oleh berbagai media bahwa ada 120 cabang yang mengusung nama Otto Hasibuan sebagai Calon Tunggal Ketua Umum, maka hal tersebut jelas-jelas bertentangan dengan Anggaran Dasar Peradi dan memasung hak demokrasi Anggota Peradi, kata Anthon.

Mengapa demikian, hal ini disebabkan karena sistem pemilihan Calon Ketua Umum PERADI yang selama ini menggunakan sistem Perwakilan DPC-DPC dan bukan sistem one man one vote sehingga potensi politisasi atau rekayasa dapat saja terjadi. Sistem perwakilan dalam pemilihan Ketua Umum yang digunakan selama ini sesuai AD, adalah masing-masing DPC akan mengusulkan 3 (tiga) nama Calon Ketua Umum yang diajukan dalam forum Munas dan bukan diajukan dalam forum Rakernas.

Walaupun barangkali ada pihak-pihak atau bahkan DPC yang punya kepentingan yang mengatakan usul nama Ketua Umum kan boleh-boleh saja diajukan dalam forum Rakernas. Kalau demikian cara berpikir seperti ini, maka sesungguhnya kita sendiri sedang menginjak-injak kontitusi kita sendiri yang sudah disepakati bersama sebagai rule of the game dalam Organisasi Peradi, kata Anthon.

Kalau cara berpikir seperti ini terus menerus dikembangkan dengan cara-cara mengabaikan Konstitusi Organisasi, maka jangan pernah bermimpi atau mengkampanyekan mengenai Peradi menjadi organisasi yang kuat,  Satu Peradi atau bahkan Single Bar, maka hal itu hanya akan menjadi wacana belaka dari berbagai kepentingan yang ada saat ini, di mana ada 3 Peradi yang masing-masing pihak belum bisa bersatu atau di satukan kedalam satu peradi.

"Saya sangat pesimis kalau Peradi bisa bersatu atau disatukan kembali kedalam satu Peradi kalau masih ada egoisme dan ambisi yang lebih dikedepankan dengan mengorbankan Organisasi dan dibiarkan terpecah belah. Oleh karen itu, menurut saya tokoh seperti Prof. Otto Hasibuan semestinya tidak perlu lagi untuk maju atau dicalonkan lagi sebagai Ketua Umum Peradi, sebab selain sudah pernah menjabat 2 (dua) kali dalam masa jabatan yang sama sebagai Ketua Umum periode 2005-2010 dan 2010-2015, maka sebetulnya Prof. Otto cukup menjadi tokoh Rekonsiliasi dalam kedudukan sebagai Ketua Dewan Pembina untuk menyelesaikan konflik yang terjadi sejak Munas Makassar 2015 hingga saat ini belum terselesaikan, maka semestinya itu menjadi tugas utama Otto Hasibuan bukan mencalonkan diri kembali atau diminta kembali berkuasa," ungkap Anthon.

Dengan majunya kembali Otto Hasibuan sebagai Calon Ketua Umum tanpa menyelesaikan konflik yang terjadi di mana masih terdapat 3 kubu Peradi, maka Peradi tetap berada dalam konflik yang berkepanjangan tanpa ada suatu akhir penyelesian, maka selama itu pula Peradi tetap saja mengalami kemunduran dalam cara ber organisasi dan tidak pernah melahirkan kader-kader pemimpin baru sebagai bagian dari proses Regenerasi dalam kepemimpinan Peradi dimasa depan. 

Oleh karena itu, Prof. Otto Hasibuan harus memiliki jiwa besar sebagai tokoh sentral yang diharapkan dapat menyelesaikan konflik organisasi yang terjadi tanpa harus maju sebagai Calon Ketua Umum, sekalipun diminta atau dicalonkan, kata Anthon.

Saya berharap dengan jiwa besar yang dimiliki Prof Otto Hasibuan dapat mempertimbangkan kembali keinginannya untuk maju sebagai Calon Ketua Umum DPN PERADI periode 2020-2025. Saya cuma kuatir MUNAS PERADI 2020 mendatang berpotensi menimbulkan Perpecahan kalau masalah yang terjadi saat ini dimana masih terdapat 3 kubu Peradi yang belum diselesaikan dengan baik, maka potensi konflik bisa kembali terjadi, harapnya.

Saya juga mengusulkan agar pada Munas Peradi mendatang perlu dilakukan perubahan terhadap sistem pemilihan ketua umum dari sistem pemilihan Perwakilan DPC perlu diubah dengan sistem "one man one vote" melalui sistem Pemilihan Regional yang dilaksanakan di tingkat DPC-DPC secara serentak di seluruh Indonesia atau melalui sistem E-Vote. Hal ini dimaksudkan selain untuk mengurangi beban biaya yang besar apabila dilakukan melalui Munas juga untuk mengurangi tingkat kecurangan atau konflik yang terjadi apabila pemilihan Calon Ketua Umum dilaksanakan melalui Munas, ujar Anthon menutup.(RK)

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu